Kartini (bag 3) — Kartini ingin menjadi muslimah sejati

Pada masa kecilnya, Kartini mempunyai pengalaman yang tidak menyenangkan ketika belajar mengaji (membaca Al-Quran). Ibu guru mengajinya memarahi beliau ketika Kartini menanyakan makna dari kata-kata Al-Quran yang diajarkan kepadanya untuk membacanya. Sejak saat itu timbullah penolakan pada diri Kartini.

“Mengenai agamaku Islam, Stella, aku harus menceritakan apa? Agama Islam melarang umatnya mendiskusikannya dengan umat agama lain. Lagi pula sebenarnya agamaku karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, kalau aku tidak mengerti, tidak boleh memahaminya? Al-Quran terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan kedalam bahasa apa pun. Di sini tidak ada orang yang mengerti bahasa Arab. Di sini orang diajar membaca Al-Quran tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Kupikir, pekerjaan orang gilakah, orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibacanya itu. Sama saja halnya seperti engkau mengajarkan aku buku bahasa Inggris, aku harus hafal kata demi kata, tetapi tidak satu patah kata pun yang kau jelaskan kepadaku apa artinya. Tidak jadi orang sholeh pun tidak apa-apa, asalkan jadi orang yang baik hati, bukankah begitu Stella?” [Surat Kartini kepada Stella, 6 November 1899]

“Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlunya dan apa manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Al-Quran, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya, dan jangan-jangan guru-guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepadaku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa, kitab yang mulia itu terlalu suci sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya. [Surat Kartini kepada E.E. Abendanon, 15 Agustus 1902]

Sampai suatu ketika Kartini berkunjung ke rumah pamannya, seorang Bupati di Demak (Pangeran Ario Hadiningrat). Di Demak waktu itu sedang berlangsung pengajian bulanan khusus untuk anggota keluarga. Kartini ikut mendengarkan pengajian tersebut bersama para raden ayu yang lain, dari balik tabir. Kartini tertarik pada materi pengajian yang disampaikan Kyai Haji Mohammad Sholeh bin Umar, seorang ulama besar dari Darat, Semarang, yaitu tentang tafsir Al-Fatihah. Kyai Sholeh Darat ini – demikian ia dikenal – sering memberikan pengajian di berbagai kabupaten di sepanjang pesisir utara. Setelah selesai acara pengajian Kartini mendesak pamannya agar bersedia menemani dia untuk menemui Kyai Sholeh Darat. Inilah dialog antara Kartini dan Kyai Sholeh Darat, yang ditulis oleh Nyonya Fadhila Sholeh, cucu Kyai Sholeh Darat :

“Kyai, perkenankanlah saya menanyakan, bagaimana hukumnya apabila seorang yang berilmu, namun menyembunyikan ilmunya?”
Tertegun Kyai Sholeh Darat mendengar pertanyaan Kartini yang diajukan secara diplomatis itu.
“Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?”. Kyai Sholeh Darat balik bertanya, sambil berpikir kalau saja apa yang dimaksud oleh pertanyaan Kartini pernah terlintas dalam pikirannya.
“Kyai, selama hidupku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama, dan induk Al-Quran yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan buatan rasa syukur hati aku kepada Allah, namun aku heran tak habis-habisnya, mengapa selama ini para ulama kita melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Quran dalam bahasa Jawa. Bukankah Al-Quran itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”

Setelah pertemuannya dengan Kartini, Kyai Sholeh Darat tergugah untuk menterjemahkan Al-Quran ke dalam bahasa Jawa. Pada hari pernikahan Kartini, Kyai Sholeh Darat menghadiahkan kepadanya terjemahan Al-Quran (Faizhur Rohman Fit Tafsiril Quran), jilid pertama yang terdiri dari 13 juz, mulai dari surat Al-Fatihah sampai dengan surat Ibrahim. Mulailah Kartini mempelajari Islam dalam arti yang sesungguhnya. Tapi sayang tidak lama setelah itu Kyai Sholeh Darat meninggal dunia, sehingga Al-Quran tersebut belum selesai diterjemahkan seluruhnya ke dalam bahasa Jawa. Kalau saja Kartini sempat mempelajari keseluruhan ajaran Islam (Al-Quran) maka tidak mustahil ia akan menerapkan semaksimal mungkin semua hal yang dituntut Islam terhadap muslimahnya. Terbukti Kartini sangat berani untuk berbeda dengan tradisi adatnya yang sudah terlanjur mapan. Kartini juga memiliki modal kehanifan yang tinggi terhadap ajaran Islam. Bukankah pada mulanya beliau paling keras menentang poligami, tapi kemudian setelah mengenal Islam, beliau dapat menerimanya. Saat mempelajari Al-Islam lewat Al-Quran terjemahan berbahasa Jawa itu, Kartini menemukan dalam surat Al-Baqarah ayat 257 bahwa ALAH-lah yang telah membimbing orang-orang beriman dari gelap kepada cahaya (Minazh-Zhulumaati ilan Nuur). Rupanya, Kartini terkesan dengan kata-kata Minazh-Zhulumaati ilan Nuur yang berarti dari gelap kepada cahaya. Karena Kartini merasakan sendiri proses perubahan dirinya, dari pemikiran tak-berketentuan kepada pemikiran hidayah. Dalam banyak suratnya sebelum wafat, Kartini banyak sekali mengulang-ulang kalimat “Dari Gelap Kepada Cahaya” ini. Karena Kartini selalu menulis suratnya dalam bahasa Belanda, maka kata-kata ini dia terjemahkan dengan “Door Duisternis Tot Licht”. Karena seringnya kata-kata tersebut muncul dalam surat-surat Kartini, maka Mr. Abendanon yang mengumpulkan surat-surat Kartini menjadikan kata-kata tersebut sebagai judul dari kumpulan surat Kartini. Tentu saja ia tidak menyadari bahwa kata-kata tersebut sebenarnya dipetik dari Al-Quran. Kemudian untuk masa-masa selanjutnya setelah Kartini meninggal, kata-kata Door Duisternis Tot Licht telah kehilangan maknanya, karena diterjemahkan oleh Armijn Pane dengan istilah “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Memang lebih puitis, tapi justru tidak persis.

Setelah Kartini mengenal Islam sikapnya terhadap Barat mulai berubah :
“Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa dibalik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?” [Surat Kartini kepada Ny. Abendanon, 27 Oktober 1902]

Kartini juga menentang semua praktek kristenisasi di Hindia Belanda :

“Bagaimana pendapatmu tentang Zending, jika bermaksud berbuat baik kepada rakyat Jawa semata-mata atas dasar cinta kasih, bukan dalam rangka kristenisasi? …. Bagi orang Islam, melepaskan keyakinan sendiri untuk memeluk agama lain, merupakan dosa yang sebesar-besarnya. Pendek kata, boleh melakukan Zending, tetapi jangan mengkristenkan orang. Mungkinkah itu dilakukan?” [Surat Kartini kepada E.E. Abendanon, 31 Januari 1903]

Bahkan Kartini bertekad untuk memenuhi panggilan surat Al-Baqarah ayat 193, berupaya untuk memperbaiki citra Islam selalu dijadikan bulan-bulanan dan sasaran fitnah. Dengan bahasa halus Kartini menyatakan :

“Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai.” [Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902]

Advertisements

20 comments on “Kartini (bag 3) — Kartini ingin menjadi muslimah sejati

  1. Poligami yang membuat para kyai cabul adalah atas nama Alloh. Padahal jelas sekali poligami merendahkan derajat wanita. Membunuh juga atas nama agama. Kekerasan atas nama agama. Kenapa menjadi begini?

    Waktu jaman Majapahit, orang Jawa (Gajah Mada, dll) membuat nusantara makmur dan jaya. Orang jawa berkebudayaan tinggi, kreatif dan toleran.

    Setelah Islam masuk di Jawa, negara kita hancur korban dari penajahan Belanda, Jepang, dsb. Korban dari korupsi, kekerasan/teror, malapetaka. Dan korban dari imperialisme Arab (Indonesia adalah negara pemasok jemaah haji yang terbesar di dunia). Bangsa Arab ini memang hebat sekali karena telah berhasil menemukan cara untuk memasukkan devisa untuk mereka sendiri. Sedangkan situasi ekonomi negara kita dalam keadaan yang sangat parah. Imperialisme Arab ini memang sangat kejam. Turun-temurun sampai anak-cucu, tidak tahu sampai kapan, nusantara diharuskan membayar “pajak” kepada Imperialisme Arab ini dengan alasan: kewajiban menjalankan rukun Islam.

    Padahal, sebelum Islam (agama impor) masuk ke Jawa, orang Jawa sudah memiliki agama universal yaitu agama Kejawen.

    Bagaimana caranya supaya orang Jawa kembali bisa memakmurkan negara kita yang tercinta ini?

    • Pertama saya mendoakan seoga anda mendapat hidayah sehingga doa orang tua anda atas nama yang diberikan kepada anda di ijabah oleh Allah.
      Semoga anda mengerti perkembangan sejarah bahwa Majapahit dengan Panglima Gaj Ahmada yang membuat nusantara makmur dan jaya yang anda akui sendiri adalah institusi Islam.
      Musantara hancur bukan karena Islam karena faktanya justru karena kebanyakan masyarakat meninggalkan Islam dan menerapkan demokrasilah itulah penyebab kehancuran negeri ini. Semoga hidayah taufik atas anda, subhanallah (Maha suci Allah dari tuduhan keji anda terhadap agama-Nya) saya tidak bisa menyebut nama anda.

  2. WAh, atas dasar apa anda berkata seperti itu??
    Poligami tidak merendahkan kaum wanita. Ada hukum nya lho.. di Al-Quran..

    Btw, biar orang Jawa bisa memakmurkan negara ini, menurut saya adalah dengan belajar.. dan terus belajar.. (belajar itu lingkupnya luas Pak De..)

  3. ariana,

    Agama Kejawen mengajarkan kedamaian antara sesama manusia sedangkan ajaran Islam menanamkan permusuhan. Anda baru lahir sudah mempunyai musuh karena menurut Al Qur’an, orang yang tidak beragama Islam adalah orang kafir. Anda diajar oleh Al Qur’an untuk menganggap jelek sesama manusia yang tidak muslim. Benar kan? Memukul istri dan poligami juga dihalalkan oleh Al Qur’an. Benar kan? Jadi sejak lahir, anda juga diajar kekerasan dan diajarkan melecehkan wanita oleh Al Qur’an. Doktrin ini tidak bisa diterima oleh kalangan banyak. Makanya Islam bukan ajaran universal. Al Qur’an dulu ditulis oleh Nabi Muhamad di tengah-tengah masyarakat tribal. Masyarakat tribal di Arab waktu itu kerjanya hanya perang, saling bunuh. Kerena yang perang dan terbunuh hanya laki-laki, maka waktu itu kebanyakan wanita yang tidak lagi mempunyai suami dan kebanyakan wanita bujangan. Laki-laki termasuk Nabi Muhamad mengunakan kesempatan itu untuk menyelingkuhi wanita-wanita tersebut. Kemudian Nabi Muhamad menyantumkan di Al Qur’an bahwa poligami dihalalkan untuk meligitimasikan perbuatan yang terkecam itu.

    Masalahnya, orang-orang muslim sekarang mengambil contoh dari Nabi Mohamad dengan berteduh di bawah payung Al Qur’an walaupun mereka mengetahui bahwa poligami melecehkan wanita. Pikirian mereka sudah tidak kritis lagi. Kalau sudah dihalalkan oleh Al Qur’an maka tidak usah lagi ditinjau kembali bagaimanapun tercelanya perbuatan tsb.

    Karena agama harus dicantumkan di KTP, maka muslim menjadi mayoritas di Indonesia. Tapi, kenapa Indonesia tidak menjadi negara Islam? Karena agama-agama leluhur mereka tidak diakui oleh pemerintah, maka orang Indonesia diharuskan berdusta dan menerima agama di KTP adalah Islam. Sejak jamannya Suharto, orang jawa atau suku lainnya diharuskan untuk mencatat perkawinannya secara Islam. Karena kalau tidak demikian, maka perkawinannya dianggap tidak sah. Dewasa ini, orang-orang pada mulai berani menunjukkan agama yang sebenarnya. Makanya, banyak yang mempunyai nama yang bernuansa muslim, tapi mereka memeluk agama Budha, Kristen, Katolik atau Hindu. Jadi mereka tidak harus berdusta lagi. Pejabat-pejabat muslim tidak setuju menghapus agama di KTP karena mereka takut muslim menjadi minoritas di Indonesia.

  4. apa ukuran benar tidaknya sebuah agama? apakah agama yang mengajarkan perdamaian (termasuk perdamaian dengan iblis dan syetan) langsung bisa dikatakan sebagai agama yang benar? apakah agama yang mengajarkan permusuhan (termasuk permusuhan terhadap iblis dan syetan) secara otomatis adalah agama yang salah?

    dari mana pula kesimpulan bahwa poligami (dan bukannya perselingkuhan dan perzinahan) itu melecehkan wanita? apa ukuran leceh dan tidak leceh?

    mas aziz,

    saya pikir kita juga perlu mendiskusikan kapan seseuatu bisa dikatakan baik atau buruk. kapan pula sesuatu bisa dikatakan terpuji atau tercela.

    bahkan saya pikir kita perlu mendiskusikan tiga pertanyaan paling dasar yang dialami manusia macam apapun: darimana manusia datang? untuk apa manusia hidup? dan kemana manusia pergi setelah kematiannya?

    baru setelah itu, kita bicara hal yang lain.

    salam

  5. POLIGAMI = PELECEHAN WANITA

    Dalam al-Qur’an, ada ayat yang secara eksplisit membolehkan poligami: dua, tiga atau empat orang isteri. Ayat inilah yang selalu menjadi senjata pendukung poligami untuk membenarkannya menurut optik Islam.

    Potongan pertama “ayat poligami” di Qur’an, seakan menyusun tangga jumlah keutamaan pernikahan. Di mulai dari dua, tiga, lantas empat. Yang paling reflek ditangkap logika biasa: cobalah dua dulu; kalau masih berminat, bisa tiga; jika masih ada kemauan dan kemampuan, boleh nambah menjadi genap empat. Bahkan, sementara umat Islam, ada yang sampai hati menjumlahkan bilangan-bilangan yang disebut Tuhan di al-Quran tersebut. Dua plus tiga, plus empat, sehingga menghasilkan jumlah yang fantastis dan menguntungkan kecenderungan pernikahan seseorang. Perbedanaan pemahaman ini tidak lepas dari permasalah hermeneutika (cara tafsir) atas ayat al-Qur’an. Masalahnya adalah, apakah penyebutan dua, tiga, empat, lantas kemudian satu, menunjukkan yang disebut pertama lebih utama (afdlal) dari yang kemudian? Kalau itu dilihat sebagai urutan keutamaan, ya poligami menjadi pilihan.

    Yang sering terlupakan adalah kelanjutan “ayat poligami” ini. Justru, yang terlupakan inilah sebetulnya ruh ayat itu. Yaitu: masalah keadilan. Keadilan atas siapa? Tentu yang dimadu (perempuan). Dari sudut pandang siapa keadilan itu? Ya, jelas sudut pandang perempuan. Sebab, yang menjadi objek poligami adalah perempuan; yang makan hati dan tahu takaran keadilan poligomos adalah perempuan itu sendiri, utamanya yang dimadu (yang terlecehkan).

  6. PERLAKUAN KASAR TERHADAP WANITA DIBENARKAN OLEH AL-QUR’AN

    Kang Sufehmi, bacalah kutipan surah an-Nisa ayat 34: “…Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur dan pukullah mereka…”

    Wanita adalah korban dari kekerasan fisik, penghinaan, dan pelecehan seksual. Semuanya itu dihalalkan oleh Al-Qur’an.

  7. Wah mas Saleh ini yang banyak permusuhannya. Wong yang namanya kafir itu bukan yang tidak beragama Islam. Orang kafir itu adalah orang yang menutupi. Sedangkan Islam sendiri bukan agama, dia adalah sistem. Sistem yang menyerahkan diri manusia sepenuhnya kepada Tuhan yang satu. Orang yang mengikuti ajaran Yesus dan menyerahkan diri pada Tuhan yang satu, maka dia berislam. Orang yahudi yang menyerahkan diri pada Tuhan yang satu, maka dia Islam.
    Quran tidak menganggap jelek orang diluar Islam. Anda yang menyatakan seperti itu.
    Rasanya ngga perlulah menyebarkan kebencian anda ditengah-tengah tulisan orang lain. Ngga etis, sama seperti orang yang mempastekan tulisan porno. Bikin sendiri blog anda bung. Banyak koq tempat buat menyebarkan kebencian, hehehe.

  8. <strong>AYAT AYAT AL-QUR’AN: SELAIN MUSLIM = KAFIR</strong>
    @awaludin, mas memang benar sumber tulisan itu adalah bukan dari saya. Itu ayat-ayat Al-Qur’an memang bukan saya yang menulisnya, tapi Nabi Mohamad. Wah, anda salah besar Bung.. Nabi Muhammad tidak pernah menulis ayat Al-Quran, tapi hanya menyampaikan.
    Kenapa ngga etis? itu kan ayat-ayat suci Al-Qur’an? Semua orang harus mengetahuinya.
    Anda bilang: <i>”Sedangkan Islam sendiri bukan agama, dia adalah sistem. “</i>
    Untuk pertama kalinya saya mendengarkan bahwa Islam itu bukan agama, tapi sistim.
    Berikut ini, saya tunjukkan dua ayat dari Al-Qur’an yang mengajar umatnya kekerasan dan memusuhi orang yang tidak beragama Islam.
    Anda bisa bilang apa saja. Tapi dalam kehidupan sehari-hari, orang muslim menganggap kafir dan musuh setiap orang yang beragama lain dari Islam.
    Inilah ayat-ayatnya di bawah:
    Q.S. Al-Baqarah (2) : 6 – 7,
    <i>“Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman [6].”
    “Allah telah mengunci mati hati (qalb-qalb, quluubihim) dan pendengaran mereka, dan pengelihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat [7].”</i>
    Jadi menurut Al-Qur’an orang yang tidak beragama Islam semuanya tidak beriman, semuanya laknatullah, atau semuanya ahli neraka.
    Jadi, secara sederhana orang muslim menganggap bahwa orang kafir adalah orang yang qalb-nya masih tertutup dari Al-Haqq (kebenaran ilahiyah), dan hal ini orang muslim secara langsung mengaitkannya dengan orang-orang yang tidak beragama Islam.
    Buktinya terlihat dalam tindakan-tindakan kekerasan, teror, intimidasi dilakukan oleh muslim di tanah air seperti bom-bom di Bali, FPI (oragnisasi anarki), MUI (dengan fatwa-fatwa yang ala purbakala) dsb. Semua hal-hal tersebut dilakukan oleh umat Islam untuk menjalankan ayat-ayat Al-Qur’an di atas dengan tujuan agar mereka menjadi muslim yang baik dan bisa masuk sorga.

  9. Pak Saleh.. Monggo baca artikel Memukul Istri Dalam Islam. Jangan gampang men-judge satuAl-Quran dan menyimpulkan sendiri artinya.. Sepertinya pemahaman Anda tentang Islam uda jaaaauuuuhhhh. banget… Semoga Anda diberi hidayah untuk bisa merasakan indahnya Islam. Amien… 🙂

  10. Wah…saya salut sama Mas Saleh….saking pahamnya akan agamanya (kejawen), sampe ngurusin agama orang lain. Saya juga salut sama anda karena mau membaca Al Quran (yang notabene ga dipercaya sama anda).

    Tapi……ibarat seorang ahli Sejarah ngebahas alghoritma komputer sambil ngaku2 lebih pinter dari seorang ahli ilmu komputer, pendapat anda sama sekali ga punya dasar yang kuat (bahasa kerennya: gak layak buat ditanggapi).

    Saya juga orang jawa mas, asli Jawa Timur. Kalo dirunut, saya bahkan punya darah bangsawan (anda boleh panggil saya Raden kalo mau). Kurang Jawa apa coba?
    Saya sedikit banyak juga tau kepercayaan kejawen (Saya cukup lama tinggal di Jawa Timur dan Jawa tengah). Sejauh yang saya ketahui, kepercayaan yang anda sebut kejawen saat ini adalah campuran antara animisme, dinamisme, Islam, Hindu, Budha. Jadi, mungkin kejawen yang anda maksud juga merupakan kejawen import. Kecuali anda lahir sebelum kerajaan Kutai ada di Indonesia (anak TK aja tau kalo itu ga mungkin). Jadi…kejawen mana nih yang anda maksud? Kenapa yang dipermasalahin cuma Islam ya? Jangan..jangan anda………………..*****************

    Jadi…kesimpulan saya, kayanya masalah ini ga usah dibahas lebih panjang. Soalnya ga ada kegunaan yang bisa didapet. Malah buang2 waktu, ato mungkin bisa bikin mas Saleh jadi terkenal. Bikin diri sendiri terkenal aja susah, ngapain bikin orang lain terkenal.
    Mod, lock aja nih thread (bahasa forum buat nutup pembicaraan ga guna).

    Buat mas Saleh…nama anda itu dari bahasa Arab lho, mendingan sebelum ngepost lagi, anda ganti nama jadi yang lebih jawa. Biar sama temen2 seperjuangan anda ga merasa terkhianati.
    Anda mungkin spammer, flammer, ato bahkan hacker (soalnya seingat saya, orang jawa kuno ga butuh internet buat cari info, bertapa aja cukup), jadi…..kalo masih semangat buat debat, coba anda masuk forum kaskus, kayanya disana ada thread buat debat masalah agama deh. Anggotanya banyak lagi, jadi kayanya ga mungkin bosen.

    Buat yang lain…post mas saleh ga usah ditanggapi serius, anggep aja bacaan santai buat diketawain…..ato dikomentarin asal. Jangan kebawa suasana apalagi ngasi alamat YM segala :D.

  11. Islam adalah agama yang universal, segala hal dari bangun tidur sampai tidur lagi diatur dalam islam. Menurut saya logikanya simple saja, seperti aturan keselamatan kerja di pabrik atau dalam kerja kita sehari-hari, maka jika kita mengikuti aturan ini kita akan selamat. Islam adalah agama yang paling banyak aturannya karena hidup bukanlah hal yang gampang, perlu aturan keselamatan untuk kita bisa selamat didalam mengarunginya.
    Untuk menafsirkan ayat didalam al-Quran menurut saya kita perlu memahami asal muasal kenapa ayat tersebut diturunkan, sehingga kita tidak akan salah persepsi. AlQuran berisi sejarah, cerita jaman dulu, perintah, larangan, keimanan, kejadian yang akan terjadi nanti, hari akhir, dll. Didalam Al-Quran banyak sekali ayat-ayat tentang peperangan, bukan berarti islam menggajarkan kita untuk berperang, bisa jadi ayat ini terkategori sebagai sejarah atau cerita jaman dulu. Masih banyak ayat-ayat lain yang mengajarkan budi pekerti yang baik, bagaimana kita seharusnya bersikap kepada orang tua, kepada tetangga atau bahkan kepada orang yang membenci kita sekalipun. Toleransi juga banyak disinggung didalam islam. Kalau kita tidak sependapat dengan agama orang lain, marilah bertoleransi, bagiku agamaku dan bagimu agamamu. Wallahu A’lam bishowab

  12. ass…………saya sangat tertarik sekali membaca artikel kartini ingin menjadi muslimah sejati, mudah2an dapat memberi inspirasi bwt kita dalam memperjuangkan agama Allah, amein………wassalam…….

  13. Menarik sekali: Di Forum Religiositas Agama, saya menemukan artikel. Ini situsnya: http://hatinurani21.wordpress.com/

    MENGAPA KEBUDAYAAN JAWA MENGALAMI KEMUNDURAN YANG SIGNIFIKAN?

    Pengantar

    Manusia Jawa adalah mayoritas di Indonesia. Nasib bangsa Indonesia sangat tergantung kepada kemampuan penalaran, skill, dan manajemen manusia Jawa (MJ). Sayang sekali s/d saat ini, MJ mengalami krisis kebudayaan; hal ini disebabkan Kebudayaan Jawa (KJ) dibiarkan merana, tidak terawat, dan tidak dikembangkan oleh pihak2 yang berkompeten (TERUTAMA OLEH POLITISI). Bahkan KJ terkesan dibiarkan mati merana digerilya oleh kebudayaan asing (terutama dari timur tengah/Arab). Mochtar Lubis dalam bukunya: Manusia Indonesia Baru, juga mengkritisi watak2 negatip manusia Jawa seperti munafik, feodal, malas, tidak suka bertanggung jawab, suka gengsi dan prestis, dan tidak suka bisnis (lebih aman jadi pegawai).
    Kemunduran kebudayaan Jawa tidak lepas dari dosa regim Orde Baru. Strategi regim Soeharto untuk melepaskan diri dari tuannya (USA dkk.) dan tekanan kaum reformis melalui politisasi agama Islam menjadikan Indonesia mengarah ke ideologi Timur Tengah (Arab). Indonesia saat ini (2007) adalah kembali menjadi ajang pertempuran antara: Barat lawan Timur Tengah, antara kaum sekuler dan kaum Islam, antara modernitas dan kekolotan agama. (mohon dibaca artikel yang lain dulu, sebaiknya sesuai no. urut)

    Boleh diibaratkan bahwa manusia Jawa terusmenerus mengalami penjajahan, misalnya penjajahan oleh:
    – Bs. Belanda selama 300 tahunan
    – Bs. Jepang selama hampir 3 tahunan
    – Regim Soeharto/ORBA selama hampir 32 tahun (Londo Ireng).
    – Negara Adidaya/perusahaan multi nasioanal selama ORBA s/d saat ini.
    – Sekarang dan dimasa dekat, bila tidak hati2, diramalkan bahwa Indonesia akan menjadi negara boneka Timur Tengah/Arab Saudi (melalui kendaraan utama politisasi agama).

    Kemunduran kebudayaan manusia Jawa sangat terasa sekali, karena suku Jawa adalah mayoritas di Indonesia, maka kemundurannya mengakibatkan kemunduran negara Indonesia, sebagai contoh kemunduran adalah terpaan berbagai krisis yang tak pernah selesai dialami oleh bangsa Indonesia. Politisasi uang dan agama mengakibatkan percepatan krisis kebudayaan Jawa, seperti analisa dibawah ini.
    Gerilya Kebudayaan
    Negara2 TIMTENG/ARAB harus berjuang sekuat tenaga dengan cara apapun untuk mendapat devisa selain dari kekayaan minyak (petro dollar), hal ini mengingat tambang minyak di Timur Tengah (TIMTENG/Arab) adalah terbatas umurnya; diperkirakan oleh para ahli bahwa umur tambang minyak sekitar 15 tahun lagi, disamping itu, penemuan energi alternatip akan dapat membuat minyak turun harganya. Begitu negara Timur Tengah mendapat angin dari regim Orde Baru, Indonesia lalu bagaikan diterpa badai gurun Sahara yang panas! Pemanfaatan agama (politisasi agama) oleh negara asing (negara2 Arab) untuk mendominasi dan menipiskan kebudayaan setempat (Indonesia) mendapatkan angin bagus, ini berlangsung dengan begitu kuat dan begitu vulgarnya. Gerilya kebudayaan asing lewat politisasi agama begitu gencarnya, terutama lewat media televisi, majalah, buku dan radio. Gerilya kebudayaan melalui TV ini sungguh secara halus-nylamur-tak kentara, orang awam pasti sulit mencernanya! Berikut ini adalah gerilya kebudayaan yang sedang berlangsung:
    – Dalam sinetron, hal-hal yang berbau mistik, dukun, santet dan yang negatip sering dikonotasikan dengan manusia yang mengenakan pakaian adat Jawa seperti surjan, batik, blangkon kebaya dan keris; kemudian hal-hal yang berkenaan dengan kebaikan dan kesucian dihubungkan dengan pakaian keagamaan dari Timur Tengah/Arab. Kebudayaan yang Jawa dikalahkan oleh yang Timur Tengah.
    – Artis2 film dan sinetron digarap duluan mengingat mereka adalah banyak menjadi idola masyarakat muda (yang nalarnya kurang jalan). Para artis, yang blo’oon politik ini, bagaikan di masukan ke salon rias Timur Tengah/Arab, untuk kemudian ditampilkan di layar televisi, koran, dan majalah demi membentuk mind set (seting pikiran) yang berkiblat ke Arab.
    – Bahasa Jawa beserta ungkapannya yang sangat luas, luhur, dalam, dan fleksibel juga digerilya. Dimulai dengan salam pertemuan yang memakai assalam…dan wassalam…. Dulu kita bangga dengan ungkapan: Tut wuri handayani, menang tanpo ngasorake, gotong royong, dsb.; sekarang kita dibiasakan oleh para gerilyawan kebudayaan dengan istilah2 asing dari Arab, misalnya: amal maruh nahi mungkar, saleh dan soleha, dst. Untuk memperkuat gerilya, dikonotasikan bahwa bhs. Arab itu membuat manusia dekat dengan surga! Sungguh cerdik dan licik.
    – Kebaya, modolan dan surjan diganti dengan jilbab, celana congkrang, dan jenggot ala orang Arab. Nama2 Jawa dengan Ki dan Nyi (misal Ki Hajar …) mulai dihilangkan, nama ke Arab2an dipopulerkan. Dalam wayang kulit, juga dilakukan gerilya kebudayaan: senjata pamungkas raja Pandawa yaitu Puntadewa menjadi disebut Kalimat Syahadat (jimat Kalimo Sodo), padahal wayang kulit berasal dari agama Hindu (banyak dewa-dewinya yang tidak Islami), jadi bukan Islam; bukankah ini sangat memalukan? Gending2 Jawa yang indah, gending2 dolanan anak2 yang bagus semisal: jamuran, cublak2 suweng, soyang2, dst., sedikit demi sedikit digerilya dan digeser dengan musik qasidahan dari Arab. Dibeberapa tempat (Padang, Aceh, Jawa Barat) usaha menetapkan hukum syariah Islam terus digulirkan, dimulai dengan kewajiban berjilbab! Kemudian, mereka lebih dalam lagi mulai mengusik ke bhinekaan Indonesia, dengan berbagai larangan dan usikan bangunan2 ibadah dan sekolah non Islam.
    – Gerilya lewat pendidikan juga gencar, perguruan berbasis Taman Siswa yang nasionalis, pluralis dan menjujung tinggi kebudayaan Jawa secara lambat namun pasti juga digerilya, mereka ini digeser oleh madrasah2/pesantren2. Padahal Taman Siswa adalah asli produk perjuangan dan merupakan kebanggaan manusia Jawa. UU Sisdiknas juga merupakan gerilya yang luar biasa berhasilnya. Sekolah swasta berciri keagamaan non Islam dipaksa menyediakan guru beragama Islam, sehingga ciri mereka lenyap.
    – Demikian pula dengan perbankan, mereka ingin eksklusif dengan bank syariah, dengan menghindari kata bunga/rente/riba; istilah ke Arab2an pun diada-adakan, walau nampak kurang logis! Seperti USA memakai IMF, dan orang Yahudi menguasai finansial, maka manusia Arab ingin mendominasi Indonesia memakai strategi halal-haramnya pinjaman, misalnya lewat bank syariah.
    – Keberhasilan perempuan dalam menduduki jabatan tinggi di pegawai negeri (eselon 1 s/d 3) dikonotasikan/dipotretkan dengan penampilan berjilbab dan naik mobil yang baik. Para pejabat eselon ini lalu memberikan pengarahan untuk arabisasi pakaian dinas di kantor masing2.
    – Di hampir pelosok P. Jawa kita dapat menyaksikan bangunan2 masjid yang megah, dana pembangunan dari Arab luar biasa besarnya. Bahkan organisasi preman bentukan militer di jaman ORBA, yaitu Pemuda Pancasila, pun mendapatkan grojogan dana dari Timur Tengah untuk membangun pesantren2 di Kalimantan, luar biasa!
    – Fatwa MUI pada bulan Agustus 2005 tentang larangan2 yang tidak berdasar nalar dan tidak menjaga keharmonisan masyarakat sungguh menyakitkan manusia Jawa yang suka damai dan harmoni. Bila ulama hanya menjadi sekedar alat politik, maka panglima agama adalah ulama politikus yang mementingkan uang, kekuasaan dan jabatan saja; efek keputusan tidak mereka hiraukan. Sejarah ORBA membuktikan bahwa MUI dan ICMI adalah alat regim ORBA yang sangat canggih. Saat ini, MUI boleh dikata telah menjadi alat negara asing (Arab) untuk menguasai
    – Dimasa lalu, banyak orang cerdas mengatakan bahwa Wali Songo adalah bagaikan MUI sekarang ini, dakwah mereka penuh gerilya kebudayaan dan politik. Manusia Majapahit digerilya, sehingga terdesak ke Bromo (suku Tengger) dan pulau Bali. Mengingat negara baru memerangi KKN, mestinya fatwa MUI adalah tentang KKN (yang relevan), misal pejabat tinggi negara yang PNS yang mempunyai tabungan diatas 3 milyar rupiah diharuskan mengembalikan uang haram itu (sebab hasil KKN), namun karena memang ditujukan untuk membelokan pemberantasan KKN, yang terjadi justru sebaliknya, fatwanya justru yang aneh2 dan merusak keharmonisan kebhinekaan Indonesia!
    – Buku2 yang sulit diterima nalar, dan secara ngawur dan membabi buta ditulis hanya untuk melawan dominasi ilmuwan Barat saat ini membanjiri pasaran di Indonesia. Rupanya ilmuwan Timur Tengah ingin melawan ilmuwan Barat, semua teori Barat yang rasional-empiris dilawan dengan teori Timur Tengah yang berbasis intuisi-agamis (berbasis Al-Quran), misal teori kebutuhan Maslow yang sangat populer dilawankan teori kebutuhan spiritual Nabi Ibrahim, teori EQ ditandingi dengan ESQ, dst. Masyarakat Indonesia harus selalu siap dan waspada dalam memilih buku yang ingin dibacanya.
    – Dengan halus, licik tapi mengena, mass media, terutama TV dan radio, telah digunakan untuk membunuh karakater (character assasination) budaya Jawa dan meninggikan karakter budaya Arab (lewat agama)! Para gerilyawan juga menyelipkan filosofis yang amat sangat cerdik, yaitu: kebudayaan Arab itu bagian dari kebudayaan pribumi, kebudayaan Barat (dan Cina) itu kebudayaan asing; jadi harus ditentang karena tidak sesuai! Padahal kebudayaan Arab adalah sangat asing!
    – Gerilya yang cerdik dan rapi sekali adalah melalui peraturan negara seperti undang-undang, misalnya hukum Syariah yang mulai diterapkan di sementara daerah, U.U. SISDIKNAS, dan rencana UU Anti Pornografi dan Pornoaksi (yang sangat bertentangan dengan Bhineka Tunggal Ika dan sangat menjahati/menjaili kaum wanita dan pekerja seni). Menurut Gus Dur, RUU APP telah melanggar Undang-Undang Dasar 1945 karena tidak memberikan tempat terhadap perbedaan. Padahal, UUD 1945 telah memberi ruang seluas-luasnya bagi keragaman di Indonesia. RUU APP juga mengancam demokrasi bangsa yang mensyaratkan kedaulatan hukum dan perlakuan sama terhadap setiap warga negara di depan hukum. Gus Dur menolak RUU APP dan meminta pemerintah mengoptimalkan penegakan undang-undang lain yang telah mengakomodir pornografi dan pornoaksi. “Telah terjadi formalisasi dan arabisasi saat ini. Kalau sikap Nahdlatul Ulama sangat jelas bahwa untuk menjalankan syariat Islam tidak perlu negara Islam,” ungkapnya. (Kompas, 3 Maret 2006).

    – Puncak gerilya kebudayaan adalah tidak diberikannya tempat untuk kepercayaan asli, misalnya Kejawen, dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP), dan urusan pernikahan/perceraian bagi kaum kepercayaan asli ditiadakan. Kejawen, harta warisan nenek moyang, yang kaya akan nilai: pluralisme, humanisme, harmoni, religius, anti kekerasan dan nasionalisme, ternyata tidak hanya digerilya, melainkan akan dibunuh dan dimatikan secara perlahan! Sungguh sangat disayangkan! Urusan perkawinan dan kematian untuk MJ penganut Kejawen dipersulit sedemikian rupa, urusan ini harus dikembalikan ke agama masing2! Sementara itu aliran setingkat Kejawen yang disebut Kong Hu Chu yang berasal dari RRC justru disyahkan keberadaannya. Sungguh sangat sadis para gerilyawan kebudayaan ini!
    – Gerilya kebudayaan juga telah mempengaruhi perilaku manusia Jawa, orang Jawa yang dahulu dikenal lemah-lembut, andap asor, cerdas, dan harmoni; namun sekarang sudah terbalik: suka kerusuhan dan kekerasan, suka menentang harmoni. Bayangkan saja, kota Solo yang dulu terkenal putri nya yang lemah lembut (putri Solo, lakune koyo macan luwe) digerilya menjadi kota yang suka kekerasan, ulama Arab (Basyir) mendirikan pesantren Ngruki untuk mencuci otak anak2 muda. Akhir2 ini kota Solo kesulitan mendatangkan turis manca negara, karena kota Solo sudah diidentikan dengan kekerasan sektarian. Untuk diketahui, di Pakistan, banyak madrasah disinyalir dijadikan tempat brain washing dan baiat. Banyak intelektual muda kita di universitas2 yang kena baiat (sumpah secara agama Islam, setelah di brain wahing) untuk mendirikan NII (negara Islam Indonesia) dengan cara menghalalkan segala cara. Berapa banyak madrasah/pesantren di Indonesia yang dijadikan tempat2 cuci otak anti pluralisme dan anti harmoni? Banyak! Berapa jam pelajaran dihabiskan untuk belajar agama (ngaji) dan bahasa Arab? Banyak, diperkirakan sampai hampir 50% nya! Tentu saja ini akan sangat mempengaruhi turunnya perilaku dan turunnya kualitas SDM bgs. Indonesia secara keseluruhan! Maraknya kerusuhan dan kekerasan di Indonesia bagaikan berbanding langsung dengan maraknya madrasah dan pesantren2. Berbagai fatwa MUI yang menjungkirbalikan harmoni dan gotong royong manusia Jawa gencar dilancarkan!

    – Sejarah membuktikan bagaimana kerajaan Majapahit, yang luarbiasa jaya, juga terdesak melalui gerilya kebudayaan Arab sehingga manusianya terpojok ke Gn. Bromo (suku Tengger) dan P. Bali (suku Bali). Mereka tetap menjaga kepercayaannya yaitu Hindu. Peranan wali Songo saat itu sebagai alat politis (mirip MUI dan ICMI saat ini) adalah besar sekali! Semenjak saat itu kemunduran kebudayaan Jawa sungguh luar biasa!
    Tanda-tanda Kemunduran Budaya Jawa
    Kemunduran kebudayaan manusia Jawa sangat terasa sekali, karena suku Jawa adalah mayoritas di Indonesia, maka kemundurannya mengakibatkan kemunduran negara Indonesia, sebagai contoh kemunduran adalah:
    – Orang2 hitam dari Afrika (yang budayanya dianggap lebih tertinggal) ternyata dengan mudah mempedayakan masyarakat kita dengan manipulasi penggandaan uang dan jual-beli narkoba.
    – Orang Barat mempedayakan kita dengan kurs nilai mata uang. Dengan $ 1 = k.l Rp. 10000, ini sama saja penjajahan baru. Mereka dapat bahan mentah hasil alam dari Indonesia murah sekali, setelah diproses di L.N menjadi barang hitech, maka harganya jadi selangit. Nilai tambah pemrosesan/produksi barang mentah menjadi barang jadi diambil mereka (disamping membuka lapangan kerja). Indonesia terus dengan mudah dikibulin dan dinina bobokan untuk menjadi negara peng export dan sekaligus pengimport terbesar didunia, sungguh suatu kebodohan yang maha luar biasa.
    – Orang Jepang terus membuat kita tidak pernah bisa bikin mobil sendiri, walau industri Jepang sudah lebih 30 tahun ada di Indonesia. Semestinya bangsa ini mampu mendikte Jepang dan negara lain untuk mendirikan pabrik di Indonesia, misalnya pabrik: Honda di Sumatra, Suzuki di Jawa, Yamaha di Sulawesi, dst. Ternyata kita sekedar menjadi bangsa konsumen dan perakit.
    – Orang Timur Tengah/Arab dengan mudah menggerilya kebudayaan kita seperti cerita diatas; disamping itu, Indonesia adalah termasuk pemasok devisa haji terbesar! Kemudian, dengan hanya Asahari, Abu Bakar Baasyir dan Habib Riziq (FPI), cukup beberapa gelintir manusia saja, Indonesia sudah dapat dibuat kalang kabut oleh negara asing! Sungguh keterlaluan dan memalukan!
    – Kalau dulu banyak mahasiswa Malaysia studi ke Indonesia, sekarang posisinya terbalik: banyak mahasiswa Indonesia belajar ke Malaysia (bahkan ke S’pore, Thailand, Pilipina, dst.). Konyol bukan?
    – Banyak manusia Jawa yang ingin kaya secara instant, misalnya mengikuti berbagai arisan/multi level marketing seperti pohon emas, dst., yang tidak masuk akal!
    – Dalam beragamapun terkesan jauh dari nalar, bijak dan jauh dari cerdas, terkesan hanya ikut2an saja. Beragama tidak harus menjiplak kebudayaan asal agama, dan tidak perlu mengorbankan budaya lokal.
    – Sampai dengan saat ini, Indonesia tidak dapat melepaskan diri dari berbagai krisis (krisis multi dimensi), kemiskinan dan pengangguran justru semakin meningkat, padahal negara tetangga yang sama2 mengalami krisis sudah kembali sehat walafiat! Peran manusia Jawa berserta kebudayaannya, sebagai mayoritas, sangat dominan dalam berbagai krisis yang dialami bangsa ini.

    Penutup

    Beragama tidak harus menjiplak kebudayaan asal agama. Gus Dur mensinyalir telah terjadi arabisasi kebudayaan. Kepentingan negara asing untuk menguasai bumi dan alam Indonesia yang kaya raya dan indah sekali sungguh riil dan kuat sekali, kalau negara modern memakai teknologi tinggi dan jasa keuangan, sedangkan negara lain memakai politisasi agama beserta kebudayaannya. Indonesia saat ini (2007) adalah sedang menjadi ajang pertempuran antara dua ideologi besar dunia: Barat lawan Timur Tengah, antara kaum sekuler dan kaum Islam, antara modernitas dan kekolotan agama. CLASH OF CIVILIZATION antar dua ideologi besar di dunia ini, yang sudah diramalkan oleh sejarahwan kelas dunia – Samuel Hutington dan Francis Fukuyama.

    Tanpa harus menirukan/menjiplak kebudayaan Arab, Indonesia diperkirakan dapat menjadi pusat Islam (center of excellence) yang modern bagi dunia. Seperti pusat agama Kristen modern, yang tidak lagi di Israel, melainkan di Itali dan Amerika. Beragama tanpa nalar disertai menjiplak budaya asal agama tersebut secara membabi buta hanya akan mengakibatkan kemunduran budaya lokal sendiri! Maka bijaksana, kritis, dan cerdik sangat diperlukan dalam beragama.

  14. Saya menemukan suatu hal yang sangat mengejutkan hati saya. Ini website-nya: http://agamarasional234.blogsource.com/

    Dalam artikel tsb, di bawah ini adalah salah satu kontradiksi yang dipaparkan:

    “Bila melihat latar belakang kehidupan Muhammad, adalah sulit sekali untuk dapat menerima bahwa ia adalah seorang yang suci. Peri kehidupan sexnya dengan banyak pelayan wanitanya/harem dan terlebih lagi dengan Aisha, gadis yang baru 9 tahun umurnya, sangat mengherankan dan mengerikan. Hubungan sex antara pria umur 54 th (Muhammad) dan Aisha (9 th) bila terjadi saat ini akan disebut kasus pedophili, dan pelakunya (yang dewasa) dapat dituntut hukuman penjara. Hal ini juga merupakan kontradiksi logika yang luar biasa (seorang nabi melakukan pedophili).”

  15. Bagong: Orang kafir itu siapa?
    Semar : Orang kafir adalah orang yang tidak pernah mempertentangkan agama.
    Bagong: Terus orang beragama itu siapa?
    Semar: Orang beragama adalah orang yang selalu memerangi orang kafir.

  16. Bapak Saleh Aziz, apa pun agama anda, tidak jadi persoalan. Setiap orang berhak menganut agama yang dia yakini. Al-Qur’an sendiri mengajarkan bahwa tidak ada paksaan dalam agama. Namun tulisan anda penuh dengan fitnah, caci-maki dan hasutan permusuhan. Anda bangga, sebagai orang Jawa. Ingat, bukan anda saja orang Jawa. Saya pun asli Jawa. Cobalah bersikap proporsional! Letakkan sesuatu sesuai pada tempatnya. Sejauh yang saya tahu dalam Kejawen juga, kita dilarang menyakiti orang lain. Anda ini Kejawen apa??

  17. Wah ada nyebut2 nama saya disini 🙂
    .
    Mbak Aryu, si Saleh Aziz ini tidak usah dihiraukan. Dia memang tukang cari gara-gara 🙂 bukan ingin berdiskusi baik-baik.

    Di blog saya dia juga banyak membanjiri dengan komentar-komentar yang isinya pelintiran data & fakta semua. Setelah jelas bahwa ybs tidak ada niat untuk berdiskusi dengan jujur, maka selanjutnya dia saya blokir.

    Tapi kemudian ybs posting dengan menggunakan nama & alamat email yg berbeda 🙂
    Sayangnya bagi ybs, saya tahu cara melacak identitas dobel seperti ini, he he. Kena blokir lagi deh.

    OK, terimakasih untuk sharingnya yang menarik. Terus ngeblog!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s