Dilema Dua Dunia

Dark

TIDAAAAAK!!! Aku tak ingin kembali ke dunia itu!! Aku ingin pergi dari dunia kelam. AKu ingin melupakan semuanya! Aku ingin mencuci otakku!! Suara hati ini menjerit. Sudah terlalu lama tumor ini berada di hatiku.
Perlahan aku pun melangkah ke dunia lain. Dunia yang tampak asyik, sibuk dengan keramaian orang-orang.

Aku pun terlarut di dalamnya. Mencurahkan semua perhatian ku ke dunia lain. Berusaha memberikan cintaku untuk dunia lain. Dunia yang aku anggap cerah.

Terlalu lama aku larut, melebur dengan kesibukan fana.
Ketika ku tersadar… Suara hati ini meronta-ronta. Aku ga boleh seperti ini! AKu tidak boleh jadi orang pengecut!!! Melarikan diri ke dunia lain. Padahal dunia asalku sedang terdapat noktah hitam. Dunia asalku butuh perhatianku. Ia juga butuh cintaku.

Sudah hampir 1 abad lamanya aku berada di zona abu-abu, zona keraguan, dilema antara dua dunia. Sekarang aku merasa bahwa aku tidak seharusnya di dunia putih , dan juga tidak seharusnya di dunia hitam.

Jangan tanyakan padaku, mana yang dunia hitam dan mana yang dunia putih. Mana dunia yang seharusnya aku tempati dan mana yang harus aku beri cinta. Karena cinta ini sekarang sudah kering, terkuras dengan air mata darah. Kebenaran itu telah tersimpul mati. Dan simpul pun perlahan terbuka dengan air mata.

Tak seharusnya ia membuka simpul itu, karena itulah akar dari semua ini. Tapi dia terlalu cerdik untuk tidak melakukan itu. Ia ambil gunting, dan simpul itu pun terbuka. Terlalu mudah untuk ia buka. Tapi gunting itu pula yang akhirnya melukai dirinya. Hingga akhirnya ia bercerita padaku bahwa simpul telah terbuka. Terlambat aku menyadari, bahwa simpul itu ternyata berbau busuk. Bau busuk itu terus berada di ingatan.

Simpul itu tak bisa ditutup kembali. Selamanya tak bisa dan selamanya akan berbau. Tak boleh ada yang mencium bau busuk simpul itu.

Sekarang kapal ini terus berlayar, dengan membawa simpul busuk itu.Aku sadar, aku tak memiliki tempat berlabuh. Terlalu berbahaya untuk melabuhkan diri pada seseorang. Kukatakan Tagi, tidak boleh ada yang mencium bau busuk simpul itu, kecuali aku dia dan pemilik tali itu. Tidak seharusnya mereka tahu dilema ku ini. Aku harus berpura-pura kuat, ya.. menjadi wanita tangguh.

Tapi serpihan jiwa ini sudah gugur. Hati ini sudah berkarat. Tak ada gunanya menjadi SOK KUAT!! yang ada hanya air mata dan tawa sandiwara.

Ya, aku bersandiwara di antara dua dunia ini… Lihatlah aku tersenyum, tertawa dan bahagia. Tapi, ingatlah satu hal “AKU SEDANG BERSANDIWARA”

NB : Tulisan ini juga sandiwara, tapi bo’ong..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s