Sepenggal Kisah di Warung itu

Matahari ketika itu sudah mulai mendekati di atas kepala. Aku mengendarai sepeda motor sendiri. Aku melirik ke belakang, kerudung ku melambai-lambai.Waktu  sudah hamper mendekati jam 11 siang. Waktu nya mengisi perut. Cup..cup.. jangan menangis dulu ya perutku, bentar lagi mau makan kok. Hehehe… Dari tadi sudah meraung-raung sih.. Aku menuju warung makan favoritku. Tidak seperti biasanya, warung makan ini tidak terlalu ramai seperti biasanya. Ketika waktu giliranku untuk memesan makanan, angin menyampaikan suara dua orang laki-laki. Aku mendengar obrolan mereka yang sedang berdiri di belakangku. ”Duh, ga enak banget sih, di kos ku sekarang ga bisa masukin cewek.”, ujar salah seorang dari mereka. Salah satunya lagi menyahut ”Hah? Ga boleh? Ga asyik banget sih. Di kontrakanku sih boleh.” DEG! Jantungku serasa berhenti berdetak untuk beberapa saat. Aku gak pengen mendengar lagi percakapan mereka. Aku gak ingin pikiranku tercemari. Tapi toh tetap saja. Secara spontan hatiku berbisik ”Astaghfirullah.. Begitukah kelakuan mahasiswa di kampus ku tercinta ini? Kemana moral kalian?”  Jujur saja aku merasa takut sekali saat itu. Sebenarnya kalau di logika , mengapa aku harus takut? Toh mereka tidak melakukan apa-apa. Setelah selesai membeli sebungkus makanan, kuberanikan diri untuk melirik laki-laki di belakangku. Hmm.. lumayan ganteng dan postur tubuh nya tinggi. Sayang sekali moralmu sudah luntur. Hanya beberapa detik setelah itu, lalu aku menuju parkiran dan menuju pulang.

———————————– 

Malamnya, ketika itu aku berada di sebuah rumah makan. Rumah makan yang tak kukenal. Aku tidak seberapa ingat siapa saja yang bersama ku saat itu. Mungkin saja hanya bersama tulang rangka ku. Ah, tidak! Ada beberapa orang bersamaku. Di rumah makan yang terlalu besar itu, aku menuju ke pintu depan. Tepat di sebelah rumah makan itu , tiba-tiba segerombolan orang laki-laki memasuki rumah itu. Beberapa saat setelah itu kulihat juga, ada seorang wanita yang dipaksa masuk. Mataku bertemu dengan mata wanita itu. Seolah dia ingin berteriak tapi sudah dibungkam dengan tangan salah seorang laki-laki. Entahlah, aku tak ingat lagi apakah terdengar suara minta tolong atau tidak.  Secara reflek aku membentak laki-laki tersebut ”Hey, lepaskan!!” Mungkin karena laki-laki itu terkejut , lalu entahlah bagaimana caranya wanita itu dapat lolos dari mereka. ”Alhamdulillah… ”, batinku.  Setelah kejadian mengerikan itu aku kembali masuk ke rumah makan dan bersiap untuk makan. Setelah memesan dan menyantap makanan, aku baru menyadari bahwa di rumah makan tersebut hanya tinggal beberapa orang saja. Ibu dan bapak penjual rumah makan, lalu ada beberapa orang laki-laki yang berada di pintu belakang dan …  Jantungku langsung berdetak kencang. Kulihat di samping rumah makan melalui pintu jendela, ada laki-laki yang sepertinya berdiri di situ. Aku bergidik ngeri. Ya Allah, berikanlah hamba kekuatan dan ampunilah dosa-dosa hamba. Laki-laki tersebut adalah orang yang sama dengan yang kulihat beberapa menit yang lalu. Seorang laki-laki di samping, seorang lagi di pintu belakang dan ada juga yang pintu depan.  ”Bos kecewa sekali karena cewek itu lepas. Kita harus menghabisi cewek keparat itu!”, umpatan itu terdengar dari luar. Fuuhh… Apa aku bisa lepas dari sini? Jurus apa yang aku keluarkan? Apa masi bisa aku mengeluarkan jurus Taekwondo ku? Sepertinya aku akan dicincang habis di rumah makan ini. Berharap ada seorang pangeran yang datang menolongku. Tapi .. sudah Yun! Hentikan berimajinasi!  Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang mendekatiku. Dia berkata ”Ternyata kamu ya? Perempuan beralis tebal, berkantung mata dan jago kelahi. Huh, kita sudah hapal ciri-cirimu.” Lalu dia melenggang pergi.  Aku melihat bapak dan ibu pemilik rumah makan ini sudah separuh baya. Kupikir, jika terjadi apa-apa pastilah mereka pasarah saja. Mereka tidak berdaya. Apa aku harus ikut-ikutan pasarah saja? TIDAK!!! Aku tidak rela. Di tanganku sekarang ada pisau yang entahlah aku juga tak ingat dimana aku mengambilnya. Aku tidak ingin membunuh! Tapi aku tak rela jika keperawanan ku direbut.  Entahlah selanjutnya apa yang terjadi. Aku tak ingat lagi. Yang kuingat aku berhasil kabur dari rumah makan itu. Di antara semak-semak aku berlari tapi tetap saja, ada seseorang yang mengikutiku. Salah seorang dari kawanan mereka tentunya…  Entahlah semua terasa gelap… Aku tak ingat lagi.. dan tak ingin bertemu dengan mereka lagi…

———————– 

NB : Kejadian sesaat di siang bolong, sampai terbawa  mimpi di dinginnya malam.

 ———————– 

Apakah semua laki-laki itu brengsek?? Jawablah wahai kaum Adam.. Disini.. Di kesepian malam.. Bersama penantianku.. Aku menunggu jawabmu…  

Advertisements

5 comments on “Sepenggal Kisah di Warung itu

  1. Pingback: Sebuah Sisi di Dunia Kampus « Aryu belongs to

  2. duhai mahluk terindah yang diciptakan Allah.. kehidupan memang sulit tapi tidak sesulit yang kita bayangkan, kehidupan memang mudah tapi tak semudah yang kita inginkan… duhai saudariku Rasul Allah dan para istrinya mampu hidup bagia.. alangkah indahnya jikalau kebenaran disampaikan dgn keindahan kata yang indah, nada yang indah nasehat yang indah.. laki2 dan wanita sama saja hanya hati yang mampu medapatkan dan melihat sisi perbedaan …jaga lah hati…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s