Menuju Cahaya Cinta

Lihatlah laron-laron itu…
Berbondong menuju cahaya
Tak tahan berada dalam kegelapan

Rintik hujan turun membasahi bumi. Seiring dengan malaikat-malaikat turun membagikan rejeki untuk para penduduk bumi. Tetumbuhan yang dulunya layu kembali segar. Bakal bunga juga ada yang bermekaran.

Mungkin inilah saat yang menyenangkan bagi para makhluk bumi. Dulu aku pernah mendengar orang yang lewat dan berkata ”Inilah saat yang mustajab untuk memanjatkan doa”. Aku tak begitu mengerti artinya apa. Yang aku tahu Allah telah menciptakan aku dengan kedua sayapku. Orang-orang menyebut kami laron.

Di sini, di balik kayu yang sudah lapuk, aku dan beratus-ratus saudaraku akan pergi bermain-main. Begitulah yang kami lakukan apabila hujan sudah selesai turun. Kalian pasti tahu bahwa rumah kami kebanjiran! Kami tak tahan dingin. Saat-saat ini yang paling kami suka karena kami bisa bertemu dengan orang-orang dan juga makhluk lain.

Beberapa orang saudaraku sudah berangkat. Sekarang waktuku berangkat. Aku berangkat bersama sekitar seratus saudaraku. Kami berangkat mencari cinta. Cinta yang membawa kehangatan bagi kami. Dan cinta itu adalah cahaya. Seberkas cahaya yang menghangatkan jiwa kami.

Kepakan sayap kami membawa kami di suatu jalan pedesaan. Di ujung jalan itu kami melihat ada seberkas cahaya. Cahaya yang berasal dari penerangan jalan. Berbondong – bondong kami ke sana. Beberapa meter lagi kami akan sampai. Kami mempercepat kepakan sayap kami. Dalam hitungan beberapa detik , kami dapat meraihnya. Bersama-sama kami mengucapkan syukur. Allah ternyata mengijinkan kami menemukan cahaya cinta itu.

 Kami mengitari cahaya itu, menari-nari menghangatkan tubuh. Tak lupa lisan kami pun ikut berdzikir kepada Allah. Sayup-sayup kudengar suara kodok di sungai di samping  jalan pun ikut berdzikir. Begitu pula dengan tanaman yang bersemak-semak itu. Mereka juga melafalkan asma Allah. Sungguh damai sekali bumi ini. Mereka tunduk semua kepada Sang Pencipta.

Aku dan saudara-saudaraku tersenyum bahagia. Kami bukan berasal dari satu bapak, tapi kami menjadi saudara karena kami adalah ciptaan Allah. Kami bersama-sama berdzikir kepada-Nya. Tak ada alasan lagi bahwa kami bukan bersaudara.

Beberapa saat kemudian, ada manusia yang datang. Kami tetap menari-nari dan berputar-berputar di antara cahaya. Aku sangat terkejut ketika dia mengeluarkan umpatan dari mulutnya. ”Hujan sialan! Acara ku jadi batal, baju basah semua gini.. Tuhan memang tidak adil!” Tersentak kami mendengar perkataan manusia itu.

”Hai manusia, jangan mengumpat seperti itu! Hujan adalah rahmat!” , teriakku Seketika itu juga, ia menendang sebotol minuman kaleng. ”Istighfar Pak.. Istighfar… ”, sahut salah satu saudara ku yang ikut mengingatkan. ”Kemana rasa syukurmu? Kau sudah bisa berjalan itu merupakan nikmat-Nya!” ”Hai, berkaca dong Pak Tua! Tuhan itu Maha Adil!” Bersahut-sahutan kami mengingatkan manusia itu.

Tetapi seruan kami dianggap angin lalu. Manusia itu terus berjalan dan lama kelamaan hilang dari pandangan. Tertelan gelapnya malam.

Bulan kulihat masih tetap bertengger di langit. Ditemani dengan bintang-bintang bertaburan. Cahaya bulan sampai ke bumi, lain halnya dengan cahaya bintang yang hanya terlihat kelap-kelipnya saja.

Di tengah keasyikan kami menghangatkan diri, berputar-putar dan menari-nari, tiba-tiba cahaya lampu itu mati. Kami kebingungan , mencoba mencari cahaya. Cahaya bulan itu! Kami ingin pergi ke sana. Tetapi kata orang, bulan itu jauh sekali. Kepakan sayap kami tak akan mampu menggapainya.

Kepanikan kami semakin menjadi, ketika bulan tertutup oleh awan gelap. Tak ada lagi cahaya! Cinta itu mulai memudar.

”Tenang! Tenang!.. Jangan panik saudaraku…”, teriakku. ”Allah selalu bersama kita.” Tetapi, aku tak merasakan kepakan sayap saudara-saudaraku. Aku tidak merasakan mereka di dekatku. Ada apa gerangan? Kemana mereka?

Lalu, kulihat seberkas cahaya itu datang. Cahaya dari lampu senter yang dibawa oleh dua manusia. Beberapa saudaraku mencoba mendekati cahaya itu. Tetapi apa yang terjadi? Manusia-manusia itu menangkap saudaraku. Mereka memasukkan saudara-saudaraku ke dalam kantong plastik.

”Nanti kita akan membuat rempeyek laron Dek”, ujar seorang manusia yang lebih tinggi itu.  Rempeyek? Apa itu? Aku sungguh tak mengerti.

Aku ngeri , apa yang akan terjadi dengan saudara-saudara ku di tangan dua manusia itu. Apa mereka akan memelihara saudara-saudaraku? Apa mereka akan menjaga saudara-saudaraku? Aku mencoba berpikir positif kepada kedua manusia itu.

Tetapi, aku lihat mereka mengambil sayap salah satu saudaraku. Kasian sekali, saudaraku tidak bisa terbang. Dan manusia-manusia itu memasukkan ke dalam kantong plastik. Aaaaarrggghhhh, pemandangan yang mengerikan. Baru dua kali ini aku pergi bermain-main keluar rumah setelah hujan. Yang pertama baik-baik saja, kami kembali dengan riang ke rumah kami. Tetapi kali ini….

 (to be continued…)

NB : inspired by mazasupa.wordpress.com Thx a  lot yaaa…

Advertisements

8 comments on “Menuju Cahaya Cinta

  1. seberkas cahaya adalah kehidupan yang indah sedangkan cinta surga yang tiada tara andai cahaya dan cinta bersatu maka ia adalah harapan sebuah kehidupan yang sejatera. dimana ada cinta disitu ada kehidupan.

  2. Iya, insyaAllah. tapi dengan banyak sumber alias banyak yang membantu inspirasi. Afwan, saya kurang nyambung maksud antum.

    :: Salam ziarah itu apa ya??::

  3. Pingback: Menuju Cahaya Cinta 2 « Aryu belongs to

  4. cerita yg unik namun hanya orang yang pernah mengalami yang tahu dan paham ceritanya, dialah oarang yang berjalan menuju Tuhannya. dilanjut……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s