Menuju Cahaya Cinta 2

Untuk Menuju Cahaya Cinta 1, silakan dibaca di sini .

Menuju Cahaya Cinta 2

Lihatlah laron-laron itu
Melepaskan sayap-sayapnya
Dan jiwa mereka terbang menuju cahaya cinta yang abadi..

——————————————–
Lolongan anjing memecah kesunyian malam. Kedua orang tetap melanjutkan aktivitasnya. Mereka menangkap laron-laron tak berdosa ke dalam kantong plastik.

Aku tetap terpaku di tempatku. Bertengger di sebuah daun yang tak jauh dari manusia itu. Terpana melihat saudara-saudara ku berada dalam plastik yang digenggam oleh manusia itu.

Tiba-tiba saja ada seberkas cahaya datang. Aku mendongak ke atas. Ternyata lampu tempat aku dan saudara-saudaraku bermain telah menyala. Cahaya lampu itu berada tepat di atasku. Aku muolai dapat mengenali saudara-saudara ku yang lain. Kulihat beberapa saudaraku terbang menuju cahaya lampu itu.

Aku juga ingin berkumpul bersama saudara-saudaraku. Aku terbang mengikuti mereka menuju cahaya lampu itu. Hal ini menarik perhatian manusia itu. Manusia itu mengetahui keberadaan kami. Mereka mulai mendekati kami. Lalu, belum sampai kami menuju sumber cahaya itu. Seorang manusia yang membawa suatu alat itu menggerakkan alat itu menuju kami. Tak sempat kami terbang menjauh, alat itu mengenai kami. Spontan aku terhuyung-huyung. Aku terjatuh di semak-semak. Dan tanpa kusadari, sayapku terlepas satu.

Tidak hanya aku saja yang bernasib seperti itu. Beberapa saudara ku juga terjatuh di semak-semak. Sayap kami kini tak sempurna lagi. Kami sekarang tak berdaya untuk terbang. Aku melihat cahaya yang penuh kehangatan. Kali ini tidak berasal dari cahaya lampu di atas sana, tetapi dari senyuman saudara-saudaraku. Gelombang cahaya ini semakin kuat, ketika aku membalas senyuman mereka.

Braaaaaaakk!!! Kami pun tersentak mendengar suara tersebut. Salah seorang manusia itu menangis keras. Manusia yang bertubuh lebih gemuk itu terjatuh tak jauh dari kami. Saudara-saudaraku yang berada dalam plastik di genggamannya ada beberapa yang terlepas. Lalu, salah seorang lagi menghampirinya.

Pandanganku tertuju pada saudara-saudara ku yang terbebas dari plastik itu. Walaupun mereka sudah terlepas, tetapi mereka sudah tidak bergerak lagi. Setelah terjadi perbincangan di antara manusia-manusia itu, lalu mereka pergi menjauh dengan membawa beberapa kantong plastik yang berisi saudara-saudaraku..Mereka telah pergi, menjauh dari kami dan hilang tertelan gelapnya malam.

Perlahan bulan mulai menampakkan dirinya. Bintang mulai bermunculan bersama dengan kepergian awan.
Seirirng dengan hadirnya bulan dan bintang , gelombang cahaya ini terasa semakin kuat. Senyuman saudara-saudaraku menghangatkan jiwaku. Aku merasakan sayapku semakin lemah dan akan segera lepas. Tak berdaya aku bertanya kepada saudara-saudara apakah gerangan yang akan terjadi. Salah seorang saudaraku berkata pada kami ”Saudaraku, bersyukurlah dan bersabarlah. Bukankah kita telah lama merindukan cahaya yang menghangatkan jiwa kita? Tak lama lagi saudaraku, kita akan menemui cahaya yang abadi. ”

Hembusan angin malam berhembus perlahan. Sayapku semakin melemah dan tak terasa perlahan terlepas bersama dengan hembusan angin malam. Lalu kami melepaskan sayap kami bersama. Telah lama kami merindukan cahaya. Kini, jiwa kami terbang menuju cahaya abadi. Cahaya yang hakiki. Ya Allah, ijinkan aku dan saudara-saudaraku menuju cahaya cinta. Ijinkan kami menemui-Mu. (aryu)